Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2013

senja di kampung Oma

Pagi pertama.
Kukuruyuuuuuuuuk. Suara beberapa ayam jantan milik Oma dan milik tetangga kiri kanan terdengar sahut menyahut, seakan berlomba membangunkan manusia untuk menyadari ada satu lagi hari baru yang diberikan cuma-cuma untuk mereka. Dua puluh menit lalu, aku sudah bangun, lalu keluar kamar memakai sweater dan duduk di teras depan. Sengaja menunggu momen terindah setiap pagi menjelang: ketika terang perlahan-lahan muncul mengalahkan kegelapan malam. Matahari baru benar-benar terbit beberapa menit kemudian. Beberapa penduduk nampak lewat di depan rumah, ada yang menuju pasar atau ladang, beberapa lainnya memakai seragam kerja. Aku baru saja selesai ber-saat teduh, hendak menutup Alkitabku, ketika beberapa orang anak tetangga berbaju seragam merah putih berjalan kaki melewati depan rumah dan meneriakiku, "Selamat pagi, kakaaaak!". Semangat sekali anak-anak kampung ini.
 
"Selamat pagi juga, adik! Pi sakolah ko?", tanyaku sambil menghampiri mereka ke pinggir jalan. Rumah Oma memang persis di tepi jalan kampung ini. 

"Iya kakak. Katong ulangan umum ini hari.", jelas mereka sambil berhenti dan memberitahukanku bahwa mereka ada ulangan umum hari ini.

"Ho, basong berangkat su. Ulangan babaik o...kerja sandiri. Oke?" pesanku kepada mereka agar tidak menyontek nanti saat ulangan. Naluri Ibu guruku mulai keluar. hehehe. Beberapa dari mereka menganggukkan kepalanya, sisanya saling melirik satu sama lain. Yang keesokan harinya, aku baru tahu kalau sebagian dari adik-adik itu bingung dengan kata-kataku, "Memangnya kapan katong sonde kerja ulangan sandiri?" :)

Aku sedang memperhatikan rombongan kecil itu lewat, sambil menguap, ketika salah satu anak, Theda, berhenti dan menoleh ke arahku, "Nanti sore katong pi bermain di kali lagi e, kak?". Aku tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menunjukkan jempol ke arah mereka. Kemarin ketika baru tiba dari bandara, aku dan adikku memang ingin sekali mandi di kali belakang rumah Oma. Disanalah kami bertemu dan berkenalan dengan anak-anak ini. Kami berjanji sore nanti mau bermain di kali lagi.
 
Pagi yang indah di tanah kelahiranku.
 
Aku pun segera kembali ke dalam rumah Oma, mengambil pakaian dan keperluan mandi, lalu menuju ke kamar mandi. Aku memang berencana bangun pagi karena ingin ikut berbelanja ke pasar. Aku harus segera mandi sebelum sepupu-sepupuku yang lain bangun dan rebutan kamar mandi. Maklum,  kamar mandi di rumah Oma hanya ada satu. Sedangkan selama beberapa hari ini rumah Oma ramai dengan anak-anak dan para cucu. Tanpa menunggu lama, aku pun berjalan menuju kamar mandi yang memang masih kosong.

Rumah Oma sudah ramai ketika aku, bibiku dan sepupuku kembali dari pasar. Begitulah kalau keluarga besar sedang berkumpul.
Sejak kecil, aku selalu menyukai suasana kumpul-kumpul seperti ini. Sayangnya, suasana seperti ini muncul hanya ketika ada saudara yang akan menikah. Selebihnya, kami jarang sekali berkumpul seperti ini. Kali ini, kakak sepupu perempuanku, berumur delapan tahun di atasku, yang akan melepas masa lajangnya.

***

Usai sarapan bersama, seluruh keluarga besar dan para tetangga di sekitar sudah berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Ternyata ketika tadi aku ke pasar, pamanku sudah membagi tugas untuk masing-masing orang. Begitulah adat di kampung, gotong royong masih kental terasa. Tidak perlu menyewa wedding organizer, keluarga dan para tetanggalah WO-nya. Saatnya aku bergabung dengan kelompok perempuan (di sekitar dapur dan ruang tamu) dan mulai bekerja.

Empat jam berlalu.

Mamaku memintaku dan sepupuku untuk mengantarkan makan siang untuk kelompok pria, yang sedang sibuk bekerja di halaman depan dan rumah sebelah. Saat itulah aku melihatnya. Di antara kerumunan orang banyak,
ternyata lelaki itu sengaja datang untuk membantu pamanku. Bekerja. Memotong. Menarik. Memasang. Memotong daging. Pergi ke kota membeli sesuatu. Memasang ini itu. Aku tidak sempat memperhatikannya lebih lama, karena kami sudah dipanggil lagi ke dalam.

Di dalam rumah dan di dapur, kami para perempuan juga sibuk. Sibuk 'bermain' dengan pisau, bawang, tacu, kuali, bumbu rempah, membuat bermacam-macam kue, menggoreng daging, merebus, menanak nasi, membuat sambal lu'at, mondar-mandir. Sambil mulut tak pernah diam, bergantian melempar topik obrolan.
Tentang resep masakan, tentang hari depan, tentang nasehat untuk kami anak muda, tentang perjalanan mengikut Tuhan. Aku lebih banyak mendengar dan menikmati percakapan. Bersyukur isinya bukan tentang gosip artis atau membicarakan orang yang tidak penting.

Lelaki itu berkali-kali menoleh ke arahku dan menatapku terus menerus. Tapi itu hanya kata sepupuku yang tidak ku percaya. Mana mungkin? Tiap ada yang bercerita dan melemparkan kelakar sampai semua tertawa, aku selalu menoleh ke arah lelaki itu beberapa detik. Dan dia selalu sibuk bekerja. Ah, sepupuku memang sok tau. Mana mungkin lelaki itu menoleh ke arahku?

Satu jam telah berlalu. Beberapa kue mulai matang dan aku berdiri untuk menempatinya dalam wadah stoples kaca. Sebuah cerita lucu dilontarkan tentang kakak sepupu laki-lakiku (yang sedang bekerja di halaman depan, jadi tidak mungkin mendengar), membuat tawa kami tidak berhenti. Tertawa sampai air mata ikut keluar. Tanpa sadar, aku refleks menoleh ke arah lelaki itu. Eh? Mereka disana sedang tertawa juga. Kakak sepupuku yang sedang kami 'tertawakan' disini, sedang bercerita tentang sesuatu disana. Lelaki itu berdiri persis di depannya, membelakangiku.

Ah, kuperhatikan...sekilas tak ada bedanya dia dari kakak sepupuku yang sedang asik bercerita. Tinggi tubuhnya seperti kebanyakan pria muda seumurnya. Rambutnya seperti sengaja dibiarkan agak memanjang dan beberapa butir keringat tampak menggantung di ujung-ujung rambutnya. Matahari memang cukup terik siang ini. Ingin aku meminjamkan topi eiger hitamku di kamar. Tapi tidak mungkin tiba-tiba aku menyodorkan topi kepada orang yang mungkin lupa padaku? Tapi kaos abu-abu yang ia kenakan separuh bagian punggungnya basah.
Ah, kenapa aku memusingkan lelaki itu? Ingin mengulurkan tisu? Hih. Mungkin saja dia sudah tidak mengingatku.

Sepuluh detik lamanya aku menatap punggungnya, ketika lelaki itu tiba-tiba menoleh ke belakang. Ia itu melihatku sedang memperhatikannya. Wajahku memerah. Tapi ia tidak tersenyum padaku.

*****
Jam lima sore.

Teng sudah berdiri. Rumah Oma dari belakang hingga halaman depan penuh dengan aroma kue dan masakan yang bercampur jadi satu. Kerumunan 'pekerja pesta' yang semula memadati halaman, sebagian mulai berpencar menuju dapur, sebagian lagi memilih untuk beristirahat di kursi-kursi plastik.

Aku sedang berada di bawah pohon, di samping rumah Oma. Mulutku sibuk mengunyah potongan kue tar susu buatan Oma, kue kesukaanku sejak kecil. 
Di sampingku duduk seorang lelaki yang tadi kutatap punggungnya. Ia menganggukkan kepalanya. Aku bercerita tentang ini dan itu. Ia sesekali tersenyum, senyum yang kutunggu sejak siang tadi. Matanya mengarah ke gelas kopi di tangannya. Sesekali ia menatap ke atas. Ke arah langit sore yang kemerah-merahan. 

Lelaki di sampingku menghirup kopinya dalam-dalam. Tak banyak bicara. Ia lebih banyak mendengarku bercerita. Ia bilang, senja disini sangat indah. Itu kalimat pertamanya sejak tadi. Aku mengiyakan. Bahkan senja di Bali, pulau yang selama 20 tahun ini kutinggali, tidak bisa menggantikan indahnya senja di kampung ini.  

Ketika kopinya hampir habis, lelaki itu meletakkan gelasnya di tanah. Kali ini giliran lelaki itu bercerita. Tentang keluarganya. Tentang sahabatnya. Dan tentang seorang wanita yang sudah lama ia kagumi. Wanita yang sangat menarik baginya. Tapi mereka sudah lama tidak bertemu dan berbicara. Ketika berkata seperti itu, wajahnya menatap ke atas, dia menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu menoleh dan tersenyum padaku. Matanya ikut tersenyum. Seperti ada rindu yang menggantung disana. Pasti untuk wanita yang ia ceritakan barusan.

Benar kan, lelaki di sampingku ini sudah mempunyai gadis impian. Mereka mungkin sedang bertengkar, atau menjalin hubungan jarak jauh. Kedua kakiku kuayun di atas tanah. Mencoba relax menikmati senja kali ini. Mencoba tersenyum mendengar ceritanya. Lalu mengutuki impian bodoh yang beberapa menit lalu melintas. Menyesali diri sendiri yang sempat percaya pada kata-kata sepupuku tadi pagi.

Bersama lelaki ini di sampingku, senja itu tak lagi menjadi indah. Padahal sebelumnya, senja disini terlalu sempurna untuk disebut indah.

Kelompok pekerja mulai bubar satu persatu. Lelaki di sebelahku juga ikut pamit. Dia berkata besok ingin mengobrol lagi denganku. Tapi aku sudah tidak tertarik lagi dengan percakapan apapun. Saat ini aku hanya ingin berendam yang lama. Tapi kaki ini sangat enggan berjalan menuju kali. Dan hari sudah terlalu sore untukku pergi ke kali. Biarlah besok aku minta maaf kepada adik-adik tetangga yang pasti sedang bersiap-siap pulang, karena lama menungguku tidak datang-datang. Maafkan kakak ya.

Badan ini terasa sangat lelah. Kelelahan yang tidak kumengerti. Lebih baik aku mandi saja di kamar mandi Oma.


**

Pagi kedua.

Lelaki itu datang kembali. Ia, seorang lelaki yang selalu ingin kucari tahu kabarnya. Lelaki yang lebih tua sedikit dariku, anak sahabat pamanku. Lelaki yang sepuluh tahun terakhir tidak pernah kulihat lagi. Dan hari ini lelaki itu sengaja datang untuk membantu pamanku (lagi). Bekerja. Memotong. Menarik. Memasang. Membunuh babi. Menyiapkan 'teng'.


Pekerjaan semakin sibuk, orang lalu lalang, dekor pelaminan akan dipasang. Semua tampak sibuk. Pekerjaan ini harus selesai paling lambat nanti malam.
 

Aku memilih untuk membantu calon pengantin wanita saja, siap disuruh kemana saja. Supaya tidak diminta mengantar minuman dan menyiapkan makan siang. Sengaja menghindari kelompok pria yang masih sibuk bekerja. Menghindarinya. Terlalu takut kecewa. Terlalu lelah untuk memperhatikannya lagi. Aku menenggelamkan diriku sendiri dalam lautan patah hati yang tercipta atas dasar asumsiku sendiri.

**
Pagi ketiga.
Kami semua sedang berada di dalam gereja. Kakak sepupuku nampak begitu anggun dan cantik. Kecantikan khas wanita daerah kami, sekilas wajahnya sama cantiknya dengan Oma. Tak sadar mataku basah melihat proses pemberkatan pagi itu. Kemarin seharian, kakak sepupuku bercerita banyak tentang perjalanan hubungan mereka. Tidak mudah, butuh bertahun-tahun pergumulan dan penyerahan total pada Tuhan. Pagi itu, aku terkagum-kagum dengan kisah cinta yang Tuhan tulis untuk mereka.

Dalam hati ku berdoa dan minta ampun pada Tuhan karena selama ini memaksakan kehendakku sendiri. Pagi itu, aku menyerahkan kembali hidupku untuk dipimpin oleh Tuhan. Bahwa pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan sajalah yang biar jadi atasku. Aku berdoa agar hatiku dimurnikan dalam masa penantian ini. Aku ingin melayani Tuhan dengan masa lajangku.

(to be continued)


Selasa, 24 September 2013

Gerard nomor delapan

Satu jam yang lalu, saya melihat seorang bocah laki-laki berbaju bola warna merah dengan nomor punggung 8 Gerard, datang membeli jajan di warung sebelah. Lebih dari setengah jam rasanya anak itu duduk di teras warung. Mengobrol dengan pemilik warung, Pak Gosa.

Selama bertahun-tahun kami bertetangga, saya jarang sekali melihat Pak Gosa duduk sendiri di bangku itu. Hampir setiap hari, Bu Puspa, istrinya, selalu ada di sampingnya. Duduk berdua di bangku panjang yang sama. Melayani pembeli. Mengobrol hingga malam mereka menutup warung. Hingga tiga bulan lalu, Bu Puspa mendahului suaminya. Berpulang kepada Sang Pencipta.

Biasanya tiap siang seperti ini, ada saja orang yang datang berbelanja. Tumben, siang ini agak sepi. Hanya ada satu tamu di warung itu. Ya anak kecil berbaju merah tadi masih disana. Dia masih asik bercerita. Tangannya sesekali digerakkan membentuk sebuah benda. Sesekali ia menunjuk-nunjuk ke atas, mengangguk-angguk menirukan sesuatu. Semangat sekali. Lalu ia tergelak sendiri. Mungkin merasa lucu dengan ceritanya sendiri. Pak Gosa hanya manggut-manggut mendengar ceritanya. Entah mengerti atau tidak. :p Yang jelas, Pak Gosa belum menggeser tempat duduknya sedari tadi. Entah siapa yang menemani siapa sore ini. :)

Kenapa saya tertarik memperhatikan tingkah anak kecil itu?

Mungkin karena ketika anak itu baru datang dan memarkir sepeda birunya, saya seketika teringat pada Jeje. Anak kedua dari salah satu Oom kesayangan saya. Sejak Ibunya meninggal, Ayah mereka 'menitipkan' Jeje dan kakaknya untuk diasuh oleh Paktua dan Maktua angkat mereka, Papa dan Mama saya. Maka ketika saya duduk di bangku SMA, saya mempunyai tambahan dua orang adik lagi. Jeje dan Etta.

Gerard (sebut saja nama anak laki-laki di warung tadi Gerard, sesuai dengan baju bola yang dia pakai :p) sekilas sangat mirip dengan Jeje. Potongan rambutnya, badan gempalnya, tinggi badannya, cara tertawanya, sampai deretan atas gigi ompongnya (yang lebih tepat disebut deretan gusi).....semuanya sangat mirip. Sangat mirip dengan Jeje delapan tahun yang lalu.

Ya, delapan tahun yang lalu.

Karena cuma itu memori yang saya ingat tentang Jeje (dan kakaknya), sebelum mereka pindah keluar dari pulau ini.

Dan selama itu, saya belum pernah bertemu dengan mereka lagi.
*****
Jeje...apa kabarmu, dek? Masih ingat sama kak Lia nggak?

Mungkin Jeje lupa, ngga apa-apa. Jeje waktu itu masih kecil banget, wajar kalau ngga ingat sama kak Lia. Tapi pasti Jeje ngga mungkin lupa sama Papa Mama, kan? Alm.Papa Yohanis dan Mama Indah. Juga Paktua dan Maktua Jeje, yang tanpa ada yang ngajarin tiba-tiba Jeje panggil Papa Mama juga.

Satu tahun belakangan ini, hampir tiap minggu kak Lia ketemu sama teman-teman Jeje dan kak Etta di gereja. Teman-teman sekolah minggu kalian dulu sekarang udah masuk Persekutuan Teruna, lho... Kak Lia sering banget mengkhayal kalau kalian masih ada disini, pasti kalian ikut IHMPT juga bareng Ando, Lui, dan teman-teman sebaya kalian lainnya disini. Trus kak Oline pasti akan ngajak kalian ikut persekutuan siswa, KTB, kamp siswa. Iya kakak tau khayalan barusan nggak mungkin terjadi dalam waktu dekat ini. :(

Selamat ulang tahun ya, adikku sayang. Kak Lia nggak akan pernah lupa tanggal ulang tahun Jeje, karena ulang tahun kita berdua kan cuma beda empat hari. Jeje pasti inget juga kan? Tapi kalau lupa ngga apa-apa, waktu itu Jeje memang masih kecil banget.

Hmm...kak Lia nggak tau Etta dan Jeje akan baca tulisan ini apa nggak. Tapi kalau kalian mungkin baca ini, kak Lia boleh ya pesan sesuatu buat kalian. Inget nggak dulu Papa sama Mama sering bilang sama kita berempat, kalau yang namanya saudara itu wajar kalau bertengkar. Tapi kalau bertengkar nggak boleh lama-lama. Harus ada salah satu yang ngalah dan ngajak baikan. Jangan sampe diem-dieman berhari-hari. Kalian sering bertengkar nggak disana? Inget pesan Papa sama Mama ya...bertengkarnya jangan lama-lama :)

Terus ketika kalian mungkin lagi sedih, lagi seneng, lagi kesel sama temen di sekolah, lagi kesel sama orang rumah, habis bertengkar berdua, atau lagi kangen sama Papa Mama, atau apapun yang Etta sama Jeje lagi rasain, bawa itu semua dalam doa ya. Ceritain semua yang kalian rasain sama Tuhan Yesus. Selalu jadikan Tuhan Yesus Sahabat kalian ya.

Jaga diri baik-baik disana, ya sayang...

Kalau Tuhan berkenan, suatu saat pasti kita bisa ngumpul lagi kayak dulu.

oya...taman kita ini sekarang udah nggak ada, sayang. :'(

Selasa, 06 Agustus 2013

Jingga

Ada yang merasa familiar dengan tokoh ini?

karya Sweta Kartika
Yup. She is Jingga. Salah satu karakter utama dalam serial komik Grey&Jingga, karya Sweta Kartika. Yang belum tahu dan pengen tahu ceritanya seperti apa, bisa mampir ke album Facebook kreatornya langsung disini.

Awalnya, adik saya yang lebih dulu mengikuti komik ini. Saya baru dua bulan belakangan ini membacanya. Komik yang diposting per-page-nya saban Senin dan Kamis ini, memiliki cerita seputar kehidupan anak muda (mahasiswa), yang nggak jauh-jauh dari persahabatan, pergaulan, kehidupan kampus, dan........percintaan. Cerita yang disajikan sederhana namun jujur saja, saya tidak mudah menebak alur ceritanya.
Belakangan, cerita yang saya kira sudah hampir selesai ternyata masih berlanjut dengan cerita Jingga jadian dengan Martin (namanya: Edward Martinus Siahaan. woo.).

Ditambah dengan adanya bonus 'quote' di setiap kisah, dan komentar-komentar para pembacanya (yang seru dan lucu-lucu), semakin membuat para pembaca tidak sabaran menanti hari Senin dan Kamis datang.  Tidak cuma jago gambar dan penutur cerita yang baik,
sang komikus juga membuat OST komiknya dengan petikan gitar yang dia mainkan, ciptakan, dan nyanyikan sendiri.


Hari ini hari Rabu kemarin Selasa dan besok Kamis, trus libur Lebaran deh horay, bukan jadwal rutin komik Grey&Jingga di-posting. Tapi pagi tadi, sang komikus mengunggah beberapa gambar karakter yang menjadi tokoh dalam komiknya. Lengkap dengan biodata singkat mereka. Ada Dharma, Zahra, Martin, Nina, dan yang pasti ada Grey dan Jingga. Sayangnya, karakter kesukaan saya, Zaki, tidak masuk dalam daftar karakter pilihan penulis yang biodatanya perlu dipublikasikan. Hiks.

Nah, jadi apa maksud postingan saya kali ini?

Nggak ada maksud apa-apa.

Saya cuma sedikit kaget :p ternyata si Jingga itu anak Sastra. Sama kayak saya. woo.. Tanggal lahirnya juga cuma beda sehari dengan saya. double woo..

Selama sebulan ini saya cuma jadi silence reader aja. Seringnya hanya kasi jempol kalau saya suka, dan kadang ada satu dua gambar yang saya share di akun facebook saya, biasanya karena quote-nya bagus. Selebihnya, saya nggak pernah ninggalin jejak di kolom komen mas Sweta. Tapi pagi tadi, demi ngeliat bio Jingga yang ada kemiripan dengan saya, saya tidak tahan untuk nggak ninggalin jejak. Jadi, saya kasi komen donk disana. Dan inilah balesan komen dari sang komikus.
Sweta Kartika: jangan2....kalian sama2 galau-ers :|

Entah kenapa kata-katanya membekas beberapa menit cukup lama. #tsaah
Sampai-sampai saya memutuskan untuk menulis posting-an ini...tentunya dengan benak yang penuh dengan pertanyaan,

 Eh? apa iya ya...
jangan-jangan sifat saya ada yang sama kayak Jingga?

jangan-jangan selorohan pencipta Jingga itu bener,
kalau saya juga seorang galau-er
?

Aduh. 
Saya memang sering banget galau akhir-akhir ini.
Tapi semoga sifat saya tidak persis sama seperti Jingga, 

yang menerima Martin hanya karena sudah tidak sabar menanti Grey.

Sss..ssaya.....mau belajar sabar dalam penantian....

>_<

sekian.
saya mau merenung dulu.

khayalan seorang anak sulung perempuan

di saat yang lain pada pengen punya pacar...

di "saat-saat kayak gini" saya malah pengen punya kakak cowo...

maka bersyukurlah wahai kalian yang punya kakak cowo...
banyak yang ingin berada di posisi seperti kalian...
terutama para anak sulung perempuan,  para fakir brother...







seperti saya.

gambar diambil dari sini

****
Saya sangat bersyukur dilahirkan sebagai anak pertama dan punya adik perempuan, yang usianya nggak terlalu jauh dan bisa berbagi apapun bersama. Tapi entah kenapa, beberapa hari ini saya suka mellow kalau liat temen-temen yang punya kakak cowo. Saya jadi ngebayangin, kalau saya punya kakak kandung cowo. Kira-kira apa ya masukan yang bakal dia kasi waktu saya curhat ini dan itu. Saya bener-bener curious dengan masukan dari sudut pandang cowo.

Rabu, 31 Juli 2013

salah paham salah siapa

Bas: Hai, Mi :D tumben chat FBnya on
Mia: Hai jugaaa.. iya nih lagi ol pake laptop hehe
Bas: dmn?
Mia: Di rumah...km?
Bas: enaknyaaa....aku masih di skolahan nih
Mia: ada ekskul ya? smangat ya :D
Bas: yup. udah lemes nih hehe
Mia: eh aku mampir liat2 timeline mu :p
Bas: gak ada yg penting buat diliat :o
Mia: hihi iya nih km jarang update foto atau status
Bas: males, gak ada ide
Mia: halah...update status aja perlu mikir dulu yak :p
Bas: ya donk...biar jadi berkat kata-katanya buat yg baca, kalau gak ada yg penting mending mingkem aja...hahaha
Mia: wah...bener juga katamu, Bas.... aku tahu itu tapi kadang masih suka pake status buat update hal2 yg gak penting :(
Bas: hahaha...santai aja, Mi...tiap orang beda-beda...mungkin aku aja yg emang gak terlalu pinter merangkai kata2 buat dijadiin status FB
Mia: hmmm....tapi kata2mu tadi buat aku mikir lho bas :)
Bas: tapi aku selalu ngikutin update'an km lho...aku kadang suka nungguin status2mu :p
Mia: wedew? jadi malu saia...hahaha
Bas: walau gak jarang status2mu nadanya galau...hahahahaha
Mia: bweeek....ngece nih... eh tapi kadang aku cuma iseng aja lho xixixi
Bas: aku tau :D
Mia: kok km bs tau?
Bas: krn km kan gak punya pacar, mau galauin siapa juga? bener gak? :p
Mia: Bastiaaaaaaaan......! terus aja ngece akuu....
Bas: ya? ada apa, non? hahahahaha
Mia: km ini lho gaya bgt.....kayak km punya aja...
Bas: lho aku kan beda...
Mia: bedanya dmn? sama aja....sama2 jomblo juga...bweeek
Bas: tapi aku jarang bikin2 status galau.....hahahaha
Mia: hahahaha iya sih :p
Bas: berarti?
Mia: berarti apa?
Bas: hari ini status galaunya apa, non? ada yg nungguin update'an nih...
Mia: errrrr.....terus aja ya, Bas.....
Bas: hahahaha.... eh aku off dulu ya :D
Mia: okee
Bas: bye, Mia :)
Mia: :)

**

Life lesson on July:
Jangan terlalu memamerkan kedekatan dengan lawan jenis yang bukan pasanganmu di ruang publik, jejaring sosial, di tempat umum. Siapa yang tahu, ada seseorang yang selama ini memperhatikanmu secara khusus, menjadi salah paham dan memilih mundur kerena melihat kedekatanmu dengan orang lain, yang padahal bukan siapa-siapamu...

suka-suka(ku)mu

Saya lagi bingung. Saya bingung tiap kali saya ikut seminar atau ibadah tertentu dan pemimpin pujiannya mengajak jemaat bernyanyi lagu "suka-sukaMu, Tuhan". Waktu pertama kali denger lagu ini, saya langsung bertanya ke teman saya, "eh, reffnya kok begini ya?"
Suka-sukaMu Tuhan, Suka-sukaMu Tuhan
Suka-sukaMu Tuhan, Suka-sukaMu Tuhan
Pulang dari pertemuan tersebut, saya langsung nanya ke beberapa teman, apa mereka tahu lagu ini. Sebagian dari mereka bilang tahu, sebagian lagi bilang belum pernah dengar. Hmm...ya sudah. Tapi bagaimana ya. Saya nggak tau kenapa, tapi saya sangat tidak nyaman menyanyikan bagian reff lagu tersebut. Pikiran saya seperti ini... Seakrab-akrabnya dan sedekat-dekatnya saya sama orangtua, saya ngga pernah berani buat ngomong "suka-sukamu, Pa!" walaupun cuma pas ngobrol santai, apalagi kalau serius. Saya nggak berani bukan karena papa saya galak (dikit sih...), tapi lebih karena saya respek sama papa dan ngga sanggup ngomong seperti itu sama beliau. Lalu, bukankah lagu ini kalau kita nyanyi itu ditujukannya buat Tuhan. Tuhan yang nyiptain ayah kita. Masa sih sama Tuhan kita berani bilang, "suka-sukaMU Tuhan"? (maaf...) tidak adakah kata yang lebih tepat untuk mengatakan bahwa, kita memang menyerahkan seluruh hidup kita hanya untuk Tuhan, pakailah sesuai kehendakMu Tuhan. Itu kan arti lirik tersebut?
Sungguhlah hidupku t'lah ditebus oleh darahMu yang Kudus,
sekarang hidup ku bukan milikku lagi

apapun yang Tuhan mau lakukan
, apapun yang Tuhan mau inginkan,
asalkan Tuhan ku senang
, semua kurelakan,
Nama-Nya dimuliakan...
Mungkin pikiran saya saja yang salah...tapi sampai sekarang saya masih belum bisa menyanyikan lagu ini sampai selesai. Seperti beberapa waktu yang lalu, ketika saya mengikuti sebuah seminar dan lagu ini dinyanyikan. Saya menyanyi, tapi ketika masuk bagian refrain, saya cuma bisa diam...tengok kiri kanan...lihat orang-orang semangat sekali. Namun sampai keempat kalinya lagu ini diulang, tiap masuk bagian reff, saya selalu diam (memang kadang saya ini suka ngeyel...). Lucunya, entah mungkin ngerasa saya diam, ibu-ibu di belakang tiba-tiba mencolek bahu saya lantas menegur, "kok diam aja mbak?" Saya kaget disapa tiba-tiba...dan cuma bisa nyengir senyum.

"ya..suka-suka tante ajalah ya.... suka-sukaku jugalah ngga ikut nyanyi :)"

Aduh tapi saya mana berani bicara begitu, jadi saya cuma berani ngomong dalam hati.

***
Mohon maaf sebelumnya untuk pencipta lagu tersebut, atau denominasi apapun yang sering menyanyikan lagu ini. Maaf kalau terkesan nyinyir. :( Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi pihak manapun. Tulisan ini hanya sebuah bentuk kebingungan seorang jemaat awam akan makna dari lirik sebuah lagu rohani yang dinyanyikan dalam ibadah.

Jumat, 28 Juni 2013

GS 14

Buka-buka album foto jaman SMA...dan nemu foto-foto ini. Ceritanya saya lagi kangen sama teman-teman sekolah dulu dan masa-masa ikut ekskul pecinta alam G.I.R.I.S.U.T.A 
Awal gabung di ekskul ini karena ikut-ikutan temen. Awalnya sehabis MOS, dikenalkan dengan para senior GS waktu saya dan Ima masuk sebagai perwakilan sekolah dalam tim gerak jalan Puputan-Margarana (jalan kaki 28 km)...mereka adalah salah satu pelatih gerak jalan saat itu. Akhirnya diajak gabung di ekskul ini yang pertemuan dan latihannya tiap Minggu siang. Syarat buat masuk jadi anggotanya, kami harus ikut latdas atau pelatihan dasar. Waktu itu bulan Desember, latdasnya camping berhari-hari di daerah Blahbatu, Gianyar... lalu pelantikan anggota dilaksanakan di gunung Batur...angkatan saya saat itu berjumlah 20 orang, dengan ketuanya saat itu adalah Ngurah. Beberapa kegiatan yang pernah saya ikuti adalah camping, mendaki gunung, repling dan prusiking, climbing, susur pantai, dll. Banyak pengalaman ketika saya bergabung selama tiga tahun dalam GS...belajar untuk tidak manja, belajar agar bisa survive di alam, belajar saling memperhatikan dan tolong menolong, belajar berorganisasi, dan belajar menerima orang-orang yang berbeda dengan saya. Dan yang paling penting, di GS inilah saya mulai belajar untuk lebih memperhatikan dan mencintai alam di sekitar saya...

Di bawah ini adalah foto saat pelantikan angkatan saya, dan beberapa foto kegiatan lainnya...
puncak Batur,
pelantikan angkatan saya
gunung Abang,
pendakian massal SMA Sanjose

puncak Batur, 17 Agustus
HUT GS ke-30

reuni akbar 2013
Viva GS!

Sabtu, 22 Juni 2013

surat cinta (1)

Teruntuk: yang terkasih, suami masa depanku

Hai, sayang. Apa kabar?

Saat menulis surat ini, aku sedang memikirkanmu.

Memikirkan kita.

Aku mengetik surat ini sambil berharap cemas teman-temanku tidak menemukan blogku dan membaca surat ini. Mereka pasti akan meledekku habis-habisan. Tapi biarlah, aku sudah terlanjur memulai surat ini. Bukankah setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya? Dan aku yakin, mereka akan tetap berteman denganku. Karena lingkaran teman-teman terbaikku penuh dengan orang-orang aneh. Jadi bisa kupastikan, aku bukanlah satu-satunya yang aneh. :)

Aku tidak sedang frustasi karena terlalu lama sendiri. Bukan juga terlalu mengkhayalkan sesuatu yang belum pasti. Aku hanya rindu. Salahkah merindukan seseorang yang belum pernah bertemu? Aku membutuhkan waktu sepuluh menit di depan laptop sampai aku memutuskan untuk menulis ini padamu. Maka biarkan aku menyelesaikan surat ini dulu, agar tersalurkan rinduku padamu.


Seperti apa ya nanti kita bertemu? Sampai aku menulis surat ini, belum ada satupun clue tentangmu yang aku tahu. Yang aku tahu, meski belum tahu kamu seperti apa, tapi aku mau kamu percaya bahwa aku sudah mengasihimu saat ini. Iya, kamu. Suami masa depanku.

Kamu tertawa tidak ya ketika membaca surat pertamaku ini? Aku norak ya? Nggak apa-apa kalau kamu mau tertawa. Aku tahu kok, kamu pasti tetap akan menyelesaikan membaca surat ini.


Hmmm...aku sebenarnya bingung apa yang bisa kuceritakan dalam surat ini. Atau mungkin lebih baik aku bertanya saja padamu. Hmm...aku sudah tanyakan kabarmu atau belum ya? Eh kenapa aku jadi grogi begini.....padahal di depanku hanya ada laptop dan bukan kamu. Hmm...sayang, apa yang sedang kamu lakukan saat ini? Kamu bekerja? Bekerja apa? Dimana? Apa pekerjaanmu itu sesuai dengan minatmu? Sesuai dengan passion-mu? Apa kamu sudah menemukan panggilan Tuhan dalam hidupmu? Apakah semua pertanyaanku ini membuatku mulai tampak membosankan? Apa aku sebaiknya melamar pekerjaan sebagai wartawan saja?

Beri tahu aku secepatnya ya bagaimana kabar terbarumu. Tolong kasi tau aku selengkapnya lengkapnya. Aku ingin tahu dan ingin ikut berjuang bersamamu. Aku ingin suatu saat nanti duduk di sampingmu, mendengarmu bercerita tentang mimpi-mimpimu. Tentang harapanmu. Tentang panggilan Tuhan dalam hidupmu dan bagaimana kamu mengerjakannya. Aku juga mau menjadi orang pertama yang mendengar keluhan-keluhanmu. Tentang masalahmu dengan rekan kerjamu. Tentang kekecewaanmu. Tentang ketakutanmu.

Aku memang bukan malaikat yang akan menghilangkan semua bebanmu sekaligus sesaat setelah kamu bercerita (sampai sekarang aku sebenarnya masih sangsi, apakah ada malaikat yang seperti itu?). Aku hanya seorang perempuanmu yang saat kamu bercerita, akan membuatkanmu secangkir kopi panas ternikmat yang pernah kamu cicipi. Nikmat, karena aku membuatnya dengan ramuan cinta dan mengaduknya dengan sendok kasih sayang (ya aku tahu dari keseluruhan surat pertamaku ini, bagian inilah yang paling lebay). Oh ya, aku belum tahu kamu suka minuman apa. Kopi hitam atau kopi susu? Teh hijau atau coklat panas? Tapi rasanya asal kita bersama, minum apa saja tetap terasa nikmat kan? *lalu nyodorin aqua galon*

Ah, aku hanya ingin menghiburmu saja.


Rasanya sekian dulu surat pertamaku ini.

Semoga aku bisa sama sabarnya denganmu dalam menunggu datangnya masa kita nanti. Semoga kita bisa sama-sama menikmati masa lajang dan penantian ini, menjaga kekudusan dan kemurnian, terus punya hati yang haus akan DIA, dan mempercayakan hidup kita hanya pada DIA. Tuhan dan Raja kita. Sang Penguasa dan Pemilik hidup dan hati kita.


dari yang sangat mengasihimu,
istri masa depanmu.


p.s. jaga kesehatanmu, ya.

Sabtu, 20 April 2013

surat untuk seorang saudari

Surat ini ditulis dalam buku harian saya, pada awal 2011.
Ditulis dengan perasaan yang aneh. Perasaan yang asing...

***

Hai, kak. Apa kabar? Kemarin ngga sengaja nemu foto kita waktu habis acara gathering. Gathering terakhir yang kakak kami todong jadi pembicara itu. Masih ingat kan? Aku jadi rindu deh kak, saat dimana kita masih duduk bersama dalam pertemuan-pertemuan di rumah persekutuan itu. Doa bareng tiap Sabtu pagi. Persekutuan bersama teman-teman di hari Minggu sore. Terlibat dalam pelayanan bareng.

Sampai kemudian muncul kesalahpahaman di antara kita berdua. Hmm, maksudku kita bertiga.

...andai segitiga itu nggak pernah ada diantara kita ya, kak. Mungkin segalanya akan tetap indah dan kita mungkin masih bisa menikmati suasana persekutuan yang ada. Tanpa perlu menjadi seperti ini. Canggung dan canggung. Merasa aneh.
 
Aku masih ingat suasana hangat persekutuan di pagi hari yang berkabut di kaki gunung itu, beberapa tahun lalu. Kakak yang memimpin pujian di pagi itu.



Hari itu adalah salah satu retreat yang tidak akan pernah kulupakan.

Maaf karena bertahun-tahun setelah pagi berkabut itu, aku mengecewakan kakak dengan 'keputusan'ku yang salah.

Tapi aku belajar dari segitiga di antara kita. Bahwa di kemudian hari nanti, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Biarkan aku berjanji pada diriku sendiri, aku mau mencari tahu kehendakNya terlebih dahulu. Aku mau melibatkan orang-orang terdekatku, bertanya terlebih dulu pada mereka yang peduli denganku. Sehingga aku nggak salah lagi dalam mengambil keputusan. Supaya nggak ada lagi hati yang sakit karena keputusanku yang salah.


Aku mau menantikan TUHAN terlebih dulu.

Kakak juga, kan?

******

Februari, 2011.
Untuk seorang saudari,
yang dengan tulus pernah kupanggil kakak.



Kamis, 30 Desember 2010

Happy New Year 2010

Hari ini adalah hari ke 364 dari 365 hari yang ada di tahun 2010...satu hari sebelum hari terakhir di penghujung tahun 2010. Ada begitu banyak hari yang sudah dilewati dengan penuh rasa. Ada senyum, tangis, keki, kesedihan, kesakitan, takjub, kekaguman, kekuatiran, sukacita. Yah...semua orang pasti mengalaminya. Bersyukur kita semua bisa melewati tahun 2010 dengan banyak pelajaran-pelajaran hidup di dalamnya.

Flashback to 2009.
Saya melewati beberapa minggu sebelum hari terakhir di tahun 2009 dengan penuh tanda tanya. Kata tanya yang muncul hanya satu dan terus menerus beredar di pikiran saya: Kenapa. Kenapa rasanya sakit. Kenapa susah menerima. Kenapa susah untuk memaafkan. Kenapa susah untuk tidak menoleh-menoleh ke belakang lagi. Kenapa susah untuk tidak membuka tutup luka. Kenapa susah untuk percaya. Kenapa susah untuk mengasihi kembali. Kenapa susah untuk berhenti meratap dan mulai berdoa. Kenapa kenapa dan kenapa.

Itulah saya di akhir tahun lalu, 2009.

Namun Tuhan memang baik. Dia baik dan selalu baik. Saya dikuatkan lagi melalui orang-orang di sekitar saya.  Saya pun bisa melewati akhir tahun dengan menyerahkan kepingan-kepingan hati yang sudah hancur ke tangan Pencipta saya. Di ibadah akhir tahun lalu, komitmen saya diperbaharui. Saya berhenti berusaha sendiri (sampai kapanpun saya ngga akan bisa nyembuhin diri sendiri). Belajar move on...dan letting go...

Sebenarnya masalah yang saya hadapi bukan sebuah masalah yang besar (kalo saya pikir-pikir lagi sekarang) dan juga bukan sebuah badai besar yang menerpa hidup saya. Bukan. Hanya saja saat itu saya masih sangat labil dan tidak siap menerima kerikil kecil (yang tajam) itu yang akhirnya mengakibatkan saya jatuh karenanya.

Saya bersyukur melalui masalah itu saya jadi dekat dengan seorang kakak staf pelayanan mahasiswa di kota saya. Dia yang setia mendukung dan mendoakan saat saya membutuhkan dukungan. Malam pergantian tahun pun saya habiskan bersama teman-teman persekutuan di Kuta. Dan pagi pertama di tahun 2010 saya awali dengan AWG dan berdoa di pantai matahari terbit.

"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9)
Tidak terasa sebentar lagi, satu tahun lagi akan berlalu.















Catatan 30 Desember 2009
pantai matahari terbit, bersama seorang teman yang baik,
menunggu matahari pertama di tahun 2010...
terimakasih krn sudah ada dan tahan mendengar semua keluhan saya malam itu...



Jumat, 09 Juli 2010

terimakasih sudah mampir

Halo...selamat datang di blog Dia(ry)Lia ini. Tahun lalu sudah pernah membuat blog, tapi sukses jarang terisi. Blog kedua ini pun tidak saya janjikan isinya akan selalu penting, selalu menarik, apalagi selalu menginspirasi. Karena bisa jadi hanya ada hal-hal remeh yang lebih sering dibagi, atau mungkin malah lebih banyak curhat terselubung disana sini. Maka itu, tidak berharap banyak akan ada yang membaca apalagi mengomentari. :) Tapi kalau ada yang tidak sengaja nyasar kemari, dengan tulus saya mau katakan:
Terimakasih ya sudah bersedia mampir. :)