Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2013

senja di kampung Oma

Pagi pertama.
Kukuruyuuuuuuuuk. Suara beberapa ayam jantan milik Oma dan milik tetangga kiri kanan terdengar sahut menyahut, seakan berlomba membangunkan manusia untuk menyadari ada satu lagi hari baru yang diberikan cuma-cuma untuk mereka. Dua puluh menit lalu, aku sudah bangun, lalu keluar kamar memakai sweater dan duduk di teras depan. Sengaja menunggu momen terindah setiap pagi menjelang: ketika terang perlahan-lahan muncul mengalahkan kegelapan malam. Matahari baru benar-benar terbit beberapa menit kemudian. Beberapa penduduk nampak lewat di depan rumah, ada yang menuju pasar atau ladang, beberapa lainnya memakai seragam kerja. Aku baru saja selesai ber-saat teduh, hendak menutup Alkitabku, ketika beberapa orang anak tetangga berbaju seragam merah putih berjalan kaki melewati depan rumah dan meneriakiku, "Selamat pagi, kakaaaak!". Semangat sekali anak-anak kampung ini.
 
"Selamat pagi juga, adik! Pi sakolah ko?", tanyaku sambil menghampiri mereka ke pinggir jalan. Rumah Oma memang persis di tepi jalan kampung ini. 

"Iya kakak. Katong ulangan umum ini hari.", jelas mereka sambil berhenti dan memberitahukanku bahwa mereka ada ulangan umum hari ini.

"Ho, basong berangkat su. Ulangan babaik o...kerja sandiri. Oke?" pesanku kepada mereka agar tidak menyontek nanti saat ulangan. Naluri Ibu guruku mulai keluar. hehehe. Beberapa dari mereka menganggukkan kepalanya, sisanya saling melirik satu sama lain. Yang keesokan harinya, aku baru tahu kalau sebagian dari adik-adik itu bingung dengan kata-kataku, "Memangnya kapan katong sonde kerja ulangan sandiri?" :)

Aku sedang memperhatikan rombongan kecil itu lewat, sambil menguap, ketika salah satu anak, Theda, berhenti dan menoleh ke arahku, "Nanti sore katong pi bermain di kali lagi e, kak?". Aku tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menunjukkan jempol ke arah mereka. Kemarin ketika baru tiba dari bandara, aku dan adikku memang ingin sekali mandi di kali belakang rumah Oma. Disanalah kami bertemu dan berkenalan dengan anak-anak ini. Kami berjanji sore nanti mau bermain di kali lagi.
 
Pagi yang indah di tanah kelahiranku.
 
Aku pun segera kembali ke dalam rumah Oma, mengambil pakaian dan keperluan mandi, lalu menuju ke kamar mandi. Aku memang berencana bangun pagi karena ingin ikut berbelanja ke pasar. Aku harus segera mandi sebelum sepupu-sepupuku yang lain bangun dan rebutan kamar mandi. Maklum,  kamar mandi di rumah Oma hanya ada satu. Sedangkan selama beberapa hari ini rumah Oma ramai dengan anak-anak dan para cucu. Tanpa menunggu lama, aku pun berjalan menuju kamar mandi yang memang masih kosong.

Rumah Oma sudah ramai ketika aku, bibiku dan sepupuku kembali dari pasar. Begitulah kalau keluarga besar sedang berkumpul.
Sejak kecil, aku selalu menyukai suasana kumpul-kumpul seperti ini. Sayangnya, suasana seperti ini muncul hanya ketika ada saudara yang akan menikah. Selebihnya, kami jarang sekali berkumpul seperti ini. Kali ini, kakak sepupu perempuanku, berumur delapan tahun di atasku, yang akan melepas masa lajangnya.

***

Usai sarapan bersama, seluruh keluarga besar dan para tetangga di sekitar sudah berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Ternyata ketika tadi aku ke pasar, pamanku sudah membagi tugas untuk masing-masing orang. Begitulah adat di kampung, gotong royong masih kental terasa. Tidak perlu menyewa wedding organizer, keluarga dan para tetanggalah WO-nya. Saatnya aku bergabung dengan kelompok perempuan (di sekitar dapur dan ruang tamu) dan mulai bekerja.

Empat jam berlalu.

Mamaku memintaku dan sepupuku untuk mengantarkan makan siang untuk kelompok pria, yang sedang sibuk bekerja di halaman depan dan rumah sebelah. Saat itulah aku melihatnya. Di antara kerumunan orang banyak,
ternyata lelaki itu sengaja datang untuk membantu pamanku. Bekerja. Memotong. Menarik. Memasang. Memotong daging. Pergi ke kota membeli sesuatu. Memasang ini itu. Aku tidak sempat memperhatikannya lebih lama, karena kami sudah dipanggil lagi ke dalam.

Di dalam rumah dan di dapur, kami para perempuan juga sibuk. Sibuk 'bermain' dengan pisau, bawang, tacu, kuali, bumbu rempah, membuat bermacam-macam kue, menggoreng daging, merebus, menanak nasi, membuat sambal lu'at, mondar-mandir. Sambil mulut tak pernah diam, bergantian melempar topik obrolan.
Tentang resep masakan, tentang hari depan, tentang nasehat untuk kami anak muda, tentang perjalanan mengikut Tuhan. Aku lebih banyak mendengar dan menikmati percakapan. Bersyukur isinya bukan tentang gosip artis atau membicarakan orang yang tidak penting.

Lelaki itu berkali-kali menoleh ke arahku dan menatapku terus menerus. Tapi itu hanya kata sepupuku yang tidak ku percaya. Mana mungkin? Tiap ada yang bercerita dan melemparkan kelakar sampai semua tertawa, aku selalu menoleh ke arah lelaki itu beberapa detik. Dan dia selalu sibuk bekerja. Ah, sepupuku memang sok tau. Mana mungkin lelaki itu menoleh ke arahku?

Satu jam telah berlalu. Beberapa kue mulai matang dan aku berdiri untuk menempatinya dalam wadah stoples kaca. Sebuah cerita lucu dilontarkan tentang kakak sepupu laki-lakiku (yang sedang bekerja di halaman depan, jadi tidak mungkin mendengar), membuat tawa kami tidak berhenti. Tertawa sampai air mata ikut keluar. Tanpa sadar, aku refleks menoleh ke arah lelaki itu. Eh? Mereka disana sedang tertawa juga. Kakak sepupuku yang sedang kami 'tertawakan' disini, sedang bercerita tentang sesuatu disana. Lelaki itu berdiri persis di depannya, membelakangiku.

Ah, kuperhatikan...sekilas tak ada bedanya dia dari kakak sepupuku yang sedang asik bercerita. Tinggi tubuhnya seperti kebanyakan pria muda seumurnya. Rambutnya seperti sengaja dibiarkan agak memanjang dan beberapa butir keringat tampak menggantung di ujung-ujung rambutnya. Matahari memang cukup terik siang ini. Ingin aku meminjamkan topi eiger hitamku di kamar. Tapi tidak mungkin tiba-tiba aku menyodorkan topi kepada orang yang mungkin lupa padaku? Tapi kaos abu-abu yang ia kenakan separuh bagian punggungnya basah.
Ah, kenapa aku memusingkan lelaki itu? Ingin mengulurkan tisu? Hih. Mungkin saja dia sudah tidak mengingatku.

Sepuluh detik lamanya aku menatap punggungnya, ketika lelaki itu tiba-tiba menoleh ke belakang. Ia itu melihatku sedang memperhatikannya. Wajahku memerah. Tapi ia tidak tersenyum padaku.

*****
Jam lima sore.

Teng sudah berdiri. Rumah Oma dari belakang hingga halaman depan penuh dengan aroma kue dan masakan yang bercampur jadi satu. Kerumunan 'pekerja pesta' yang semula memadati halaman, sebagian mulai berpencar menuju dapur, sebagian lagi memilih untuk beristirahat di kursi-kursi plastik.

Aku sedang berada di bawah pohon, di samping rumah Oma. Mulutku sibuk mengunyah potongan kue tar susu buatan Oma, kue kesukaanku sejak kecil. 
Di sampingku duduk seorang lelaki yang tadi kutatap punggungnya. Ia menganggukkan kepalanya. Aku bercerita tentang ini dan itu. Ia sesekali tersenyum, senyum yang kutunggu sejak siang tadi. Matanya mengarah ke gelas kopi di tangannya. Sesekali ia menatap ke atas. Ke arah langit sore yang kemerah-merahan. 

Lelaki di sampingku menghirup kopinya dalam-dalam. Tak banyak bicara. Ia lebih banyak mendengarku bercerita. Ia bilang, senja disini sangat indah. Itu kalimat pertamanya sejak tadi. Aku mengiyakan. Bahkan senja di Bali, pulau yang selama 20 tahun ini kutinggali, tidak bisa menggantikan indahnya senja di kampung ini.  

Ketika kopinya hampir habis, lelaki itu meletakkan gelasnya di tanah. Kali ini giliran lelaki itu bercerita. Tentang keluarganya. Tentang sahabatnya. Dan tentang seorang wanita yang sudah lama ia kagumi. Wanita yang sangat menarik baginya. Tapi mereka sudah lama tidak bertemu dan berbicara. Ketika berkata seperti itu, wajahnya menatap ke atas, dia menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu menoleh dan tersenyum padaku. Matanya ikut tersenyum. Seperti ada rindu yang menggantung disana. Pasti untuk wanita yang ia ceritakan barusan.

Benar kan, lelaki di sampingku ini sudah mempunyai gadis impian. Mereka mungkin sedang bertengkar, atau menjalin hubungan jarak jauh. Kedua kakiku kuayun di atas tanah. Mencoba relax menikmati senja kali ini. Mencoba tersenyum mendengar ceritanya. Lalu mengutuki impian bodoh yang beberapa menit lalu melintas. Menyesali diri sendiri yang sempat percaya pada kata-kata sepupuku tadi pagi.

Bersama lelaki ini di sampingku, senja itu tak lagi menjadi indah. Padahal sebelumnya, senja disini terlalu sempurna untuk disebut indah.

Kelompok pekerja mulai bubar satu persatu. Lelaki di sebelahku juga ikut pamit. Dia berkata besok ingin mengobrol lagi denganku. Tapi aku sudah tidak tertarik lagi dengan percakapan apapun. Saat ini aku hanya ingin berendam yang lama. Tapi kaki ini sangat enggan berjalan menuju kali. Dan hari sudah terlalu sore untukku pergi ke kali. Biarlah besok aku minta maaf kepada adik-adik tetangga yang pasti sedang bersiap-siap pulang, karena lama menungguku tidak datang-datang. Maafkan kakak ya.

Badan ini terasa sangat lelah. Kelelahan yang tidak kumengerti. Lebih baik aku mandi saja di kamar mandi Oma.


**

Pagi kedua.

Lelaki itu datang kembali. Ia, seorang lelaki yang selalu ingin kucari tahu kabarnya. Lelaki yang lebih tua sedikit dariku, anak sahabat pamanku. Lelaki yang sepuluh tahun terakhir tidak pernah kulihat lagi. Dan hari ini lelaki itu sengaja datang untuk membantu pamanku (lagi). Bekerja. Memotong. Menarik. Memasang. Membunuh babi. Menyiapkan 'teng'.


Pekerjaan semakin sibuk, orang lalu lalang, dekor pelaminan akan dipasang. Semua tampak sibuk. Pekerjaan ini harus selesai paling lambat nanti malam.
 

Aku memilih untuk membantu calon pengantin wanita saja, siap disuruh kemana saja. Supaya tidak diminta mengantar minuman dan menyiapkan makan siang. Sengaja menghindari kelompok pria yang masih sibuk bekerja. Menghindarinya. Terlalu takut kecewa. Terlalu lelah untuk memperhatikannya lagi. Aku menenggelamkan diriku sendiri dalam lautan patah hati yang tercipta atas dasar asumsiku sendiri.

**
Pagi ketiga.
Kami semua sedang berada di dalam gereja. Kakak sepupuku nampak begitu anggun dan cantik. Kecantikan khas wanita daerah kami, sekilas wajahnya sama cantiknya dengan Oma. Tak sadar mataku basah melihat proses pemberkatan pagi itu. Kemarin seharian, kakak sepupuku bercerita banyak tentang perjalanan hubungan mereka. Tidak mudah, butuh bertahun-tahun pergumulan dan penyerahan total pada Tuhan. Pagi itu, aku terkagum-kagum dengan kisah cinta yang Tuhan tulis untuk mereka.

Dalam hati ku berdoa dan minta ampun pada Tuhan karena selama ini memaksakan kehendakku sendiri. Pagi itu, aku menyerahkan kembali hidupku untuk dipimpin oleh Tuhan. Bahwa pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan sajalah yang biar jadi atasku. Aku berdoa agar hatiku dimurnikan dalam masa penantian ini. Aku ingin melayani Tuhan dengan masa lajangku.

(to be continued)


Minggu, 29 September 2013

101112 (part two)

Pada hari H, 101112...acara baru mulai jam 19.30, molor setengah jam dari yang tertera di undangan...hmm kami menunggu sampai keluarga dan undangan dateng semua, karena undangan cuma 50 orang, kalau belum pada dateng ya mau mulai acara gimana..masih sepi banget..hehe..

Dan sebagai anak tertua, mau ndak mau saya yang menyapa para undangan..ceritanya jadi MC mendadak (harusnya sama Oom JR juga, tapi ternyata saya dikerjain..). Dengan terbata-bata, saya mencoba untuk memberikan sambutan sederhana. Itu pertama kalinya saya berbicara di depan keluarga besar dan kerabat dekat, mewakili Papa dan Mama. deg..deg..


Rabu, 25 September 2013

101112 (part one)

Saya baru sadar ternyata usia blog ini sudah tiga tahun. Tidak banyak yang saya tulis dalam rentang tiga tahun ini. Tidak seperti blog-blog lain yang berisi topik-topik menarik, isi blog saya hampir seluruhnya cuma berisi curhatan menye-menye dan refleksi pribadi. Aih, malu saia. Saya baru sadar juga, sepanjang 2012 ternyata saya tidak menulis apapun. Tidak ada postingan di tahun 2012. Ah ya....tahun lalu saya sempat lupa password blog ini. Plus rasa malas yang terus dipiara selama tahun itu.

Baiklah, waktu memang tidak bisa ditarik mundur. Tapi nggak ada salahnya sebagai pengisi kekosongan cerita di tahun lalu, gimana kalau saya tulis salah satu cerita yang terjadi di tahun lalu? Saya mau cerita bagaimana saya dan adik saya bekerja sama membuat acara untuk kedua orangtua kami.

Tahun lalu, tepatnya November 2012, adalah tahun ke-25 pernikahan kedua orangtua saya. Dalam rangka itu, orang tua saya ingin ngadain syukuran kecil-kecilan dengan keluarga dan teman-teman dekat mereka. Jadi, kurang lebih dua minggu lamanya, saya dan adik saya sibuk nyiapin acara. Sempat mumet mikirin konsep acaranya mau kayak apa. Lumayan bingung gimana cara gabungin ibadah dan acara ulang tahun pernikahan supaya tetap sederhana tapi tidak kaku, dan harus bisa meninggalkan kesan khusus bagi kedua orangtua kami.

Setelah dua hari bertapa berpikir bersama-sama, akhirnya tersusunlah konsep dan susunan acaranya. Lalu kami melewati hari-hari seperti biasa yang diselipkan dengan kesibukan: membuat undangan kemudian keliling nganter satu per satu, booking restoran, membeli perlengkapan dekor, ngumpulin foto-foto jadul lalu di-scan satu persatu (special thanks utk Bella yang udah ngebantuin), ke rumah pak pendeta, bikin video slide foto-foto (sederhana dengan movie maker), trus latian nyanyi sembunyi-sembunyi berdua (ceritanya saya dan adik mau kasi suprise gituu), mesen taart, dan gladi acara H-1 (kok ada gladi segala ya?). Dan....setelah dua minggu berlalu, akhirnya hari yang ditunggu pun tiba.

Awalnya, kami memilih tanggal sesuai dengan tanggal pernikahan sebenarnya. Namun karena ada dua dan tiga hal, acara harus diundur beberapa hari kemudian dan akhirnya dipilihlah hari Sabtu. Kami baru sadar setelah undangan jadi, eh kok hari Sabtu itu pas tanggal cantik ternyata...10-11-12.
penampakan kartu undangannya


*detail acaranya akan saya tulis di postingan berikutnya...


Selasa, 24 September 2013

Gerard nomor delapan

Satu jam yang lalu, saya melihat seorang bocah laki-laki berbaju bola warna merah dengan nomor punggung 8 Gerard, datang membeli jajan di warung sebelah. Lebih dari setengah jam rasanya anak itu duduk di teras warung. Mengobrol dengan pemilik warung, Pak Gosa.

Selama bertahun-tahun kami bertetangga, saya jarang sekali melihat Pak Gosa duduk sendiri di bangku itu. Hampir setiap hari, Bu Puspa, istrinya, selalu ada di sampingnya. Duduk berdua di bangku panjang yang sama. Melayani pembeli. Mengobrol hingga malam mereka menutup warung. Hingga tiga bulan lalu, Bu Puspa mendahului suaminya. Berpulang kepada Sang Pencipta.

Biasanya tiap siang seperti ini, ada saja orang yang datang berbelanja. Tumben, siang ini agak sepi. Hanya ada satu tamu di warung itu. Ya anak kecil berbaju merah tadi masih disana. Dia masih asik bercerita. Tangannya sesekali digerakkan membentuk sebuah benda. Sesekali ia menunjuk-nunjuk ke atas, mengangguk-angguk menirukan sesuatu. Semangat sekali. Lalu ia tergelak sendiri. Mungkin merasa lucu dengan ceritanya sendiri. Pak Gosa hanya manggut-manggut mendengar ceritanya. Entah mengerti atau tidak. :p Yang jelas, Pak Gosa belum menggeser tempat duduknya sedari tadi. Entah siapa yang menemani siapa sore ini. :)

Kenapa saya tertarik memperhatikan tingkah anak kecil itu?

Mungkin karena ketika anak itu baru datang dan memarkir sepeda birunya, saya seketika teringat pada Jeje. Anak kedua dari salah satu Oom kesayangan saya. Sejak Ibunya meninggal, Ayah mereka 'menitipkan' Jeje dan kakaknya untuk diasuh oleh Paktua dan Maktua angkat mereka, Papa dan Mama saya. Maka ketika saya duduk di bangku SMA, saya mempunyai tambahan dua orang adik lagi. Jeje dan Etta.

Gerard (sebut saja nama anak laki-laki di warung tadi Gerard, sesuai dengan baju bola yang dia pakai :p) sekilas sangat mirip dengan Jeje. Potongan rambutnya, badan gempalnya, tinggi badannya, cara tertawanya, sampai deretan atas gigi ompongnya (yang lebih tepat disebut deretan gusi).....semuanya sangat mirip. Sangat mirip dengan Jeje delapan tahun yang lalu.

Ya, delapan tahun yang lalu.

Karena cuma itu memori yang saya ingat tentang Jeje (dan kakaknya), sebelum mereka pindah keluar dari pulau ini.

Dan selama itu, saya belum pernah bertemu dengan mereka lagi.
*****
Jeje...apa kabarmu, dek? Masih ingat sama kak Lia nggak?

Mungkin Jeje lupa, ngga apa-apa. Jeje waktu itu masih kecil banget, wajar kalau ngga ingat sama kak Lia. Tapi pasti Jeje ngga mungkin lupa sama Papa Mama, kan? Alm.Papa Yohanis dan Mama Indah. Juga Paktua dan Maktua Jeje, yang tanpa ada yang ngajarin tiba-tiba Jeje panggil Papa Mama juga.

Satu tahun belakangan ini, hampir tiap minggu kak Lia ketemu sama teman-teman Jeje dan kak Etta di gereja. Teman-teman sekolah minggu kalian dulu sekarang udah masuk Persekutuan Teruna, lho... Kak Lia sering banget mengkhayal kalau kalian masih ada disini, pasti kalian ikut IHMPT juga bareng Ando, Lui, dan teman-teman sebaya kalian lainnya disini. Trus kak Oline pasti akan ngajak kalian ikut persekutuan siswa, KTB, kamp siswa. Iya kakak tau khayalan barusan nggak mungkin terjadi dalam waktu dekat ini. :(

Selamat ulang tahun ya, adikku sayang. Kak Lia nggak akan pernah lupa tanggal ulang tahun Jeje, karena ulang tahun kita berdua kan cuma beda empat hari. Jeje pasti inget juga kan? Tapi kalau lupa ngga apa-apa, waktu itu Jeje memang masih kecil banget.

Hmm...kak Lia nggak tau Etta dan Jeje akan baca tulisan ini apa nggak. Tapi kalau kalian mungkin baca ini, kak Lia boleh ya pesan sesuatu buat kalian. Inget nggak dulu Papa sama Mama sering bilang sama kita berempat, kalau yang namanya saudara itu wajar kalau bertengkar. Tapi kalau bertengkar nggak boleh lama-lama. Harus ada salah satu yang ngalah dan ngajak baikan. Jangan sampe diem-dieman berhari-hari. Kalian sering bertengkar nggak disana? Inget pesan Papa sama Mama ya...bertengkarnya jangan lama-lama :)

Terus ketika kalian mungkin lagi sedih, lagi seneng, lagi kesel sama temen di sekolah, lagi kesel sama orang rumah, habis bertengkar berdua, atau lagi kangen sama Papa Mama, atau apapun yang Etta sama Jeje lagi rasain, bawa itu semua dalam doa ya. Ceritain semua yang kalian rasain sama Tuhan Yesus. Selalu jadikan Tuhan Yesus Sahabat kalian ya.

Jaga diri baik-baik disana, ya sayang...

Kalau Tuhan berkenan, suatu saat pasti kita bisa ngumpul lagi kayak dulu.

oya...taman kita ini sekarang udah nggak ada, sayang. :'(

Selasa, 06 Agustus 2013

khayalan seorang anak sulung perempuan

di saat yang lain pada pengen punya pacar...

di "saat-saat kayak gini" saya malah pengen punya kakak cowo...

maka bersyukurlah wahai kalian yang punya kakak cowo...
banyak yang ingin berada di posisi seperti kalian...
terutama para anak sulung perempuan,  para fakir brother...







seperti saya.

gambar diambil dari sini

****
Saya sangat bersyukur dilahirkan sebagai anak pertama dan punya adik perempuan, yang usianya nggak terlalu jauh dan bisa berbagi apapun bersama. Tapi entah kenapa, beberapa hari ini saya suka mellow kalau liat temen-temen yang punya kakak cowo. Saya jadi ngebayangin, kalau saya punya kakak kandung cowo. Kira-kira apa ya masukan yang bakal dia kasi waktu saya curhat ini dan itu. Saya bener-bener curious dengan masukan dari sudut pandang cowo.

Senin, 03 Oktober 2011

Suramadu Joglosemar 2011

Bulan Juni yang lalu, saya bersama keluarga melakukan perjalanan ke pulau Jawa. Ini adalah perjalanan darat kami dengan formasi lengkap sekeluarga untuk yang pertama kalinya. Terimakasih buat oom JR yang setiaaa menemani dan membuat perjalanan kali ini terasa sangat menyenangkan!

Baiklah.....berikut catatan (singkat) perjalanan kami, yang saya salin dari catatan yang pernah saya buat dalam perjalanan, detail dengan jam-jamnya... dan sisanya saya coba untuk mengingat-ingat... Maaf kalau cara saya menuturkannya membuat pembaca kurang nyaman. Juga karena keterbatasan saya, saya tidak terlalu rinci menceritakan suasana atau keadaan dari tiap lokasi yang kami datangi...

ok...kita langsung saja berangkat...